Dua puluh tahun lalu, aku — Alpha, anak muda berusia 15 tahun — melangkah masuk ke gerbang SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan dengan perasaan campur aduk antara gugup dan semangat. Tak terpikir sedikit pun bahwa sekolah yang dulu hanya kukenal sebagai tempat belajar dan bertumbuh, kelak akan menjadi bagian dari kisah pengabdian yang mengubah banyak kehidupan, termasuk hidupku sendiri.
Tahun berganti. Hidup membawa aku ke banyak arah, sampai akhirnya di tahun 2019, di tengah kesibukan dan rutinitas, datang sebuah pesan di malam hari. Pengirimnya seseorang yang bahkan belum pernah kutemui sebelumnya — (alm) Mas Larry, kakak kelasku di Van Lith yang terpaut 13 tahun di atasku.
Beliau bercerita tentang sesuatu yang awalnya terasa jauh dariku: Beasiswa Van Lith. Ia menjelaskan apa itu program beasiswa Van Lith, siapa yang menerima, dan mengapa program ini ada. Tapi lebih dari itu, beliau menyampaikan semangat! Semangat untuk membantu calon adik-adik satu almamater di sekolah kita agar mereka yang punya semangat belajar, tapi terbatas secara finansial, tetap bisa merasakan dinamika hidup di Van Lith.
Saat itu aku belum tahu, percakapan malam itu akan menjadi titik awal dari perjalanan yang penuh makna.
⸻
Awal Sebuah Gerakan
Pandemi COVID-19 datang, dan seperti banyak hal lain, kegiatan beasiswa yang sebelumnya telah dijalanlan bertahun-tahun oleh kakak-kakak Hippavali pun terdampak.
Namun, justru di masa sulit itulah, muncul semangat baru untuk berkolaborasi.
Pada pertengahan Maret di Tahun 2021, kami mengadakan Zoom meeting pertama yang mempertemukan pengurus beasiswa dari Hippavali dengan perwakilan dari berbagai angkatan.
Aku masih ingat betul suasananya — hangat, meski hanya lewat layar.
Dalam pertemuan itu, Mbak Galih Ratna (VL10) memaparkan dengan jelas kondisi dan tujuan program beasiswa ini. Didampingi oleh Mas Raymond, (alm) Mas Larry, Mas Barus dari VL2, serta Mas Iwan VL4 (yang akrab disapa Pak Pres), mereka menjelaskan bahwa dana beasiswa yang selama ini ditopang oleh Hippavali mulai menipis akibat pandemi.
Kondisi ini membuat kami semua tersadar: agar program ini bisa terus hidup, kami — para alumni dari berbagai angkatan — harus ikut bergerak.
⸻
Dari Tiga ke Tiga Puluh Delapan , dari Langkah ke Gerakan
Saat itu, ada 12 siswa penerima beasiswa: masing-masing empat siswa dari kelas 10, 11, dan 12.
Setiap anak menerima subsidi biaya sekolah sebesar Rp1.000.000 per bulan, dan subsidi UPP sebesar Rp4.000.000 bagi calon siswa baru.
Tahun demi tahun berlalu, dan beasiswa ini tumbuh bersama semangat para alumninya.
Kini, sudah ada 24 angkatan alumni Van Lith terlibat dalam gerakan ini.
Dan hingga hari ini, 38 siswa telah menerima manfaat langsung dari beasiswa Van Lith, 19 diantaranya masih berstatus sebagai siswa di SMA PL Van Lith saat ini.
Bagi kami para pengurus, setiap nama penerima bukan sekadar angka, melainkan cerita hidup yang sedang diperjuangkan.
Masih teringat dengan jelas bagaimana para siswa penerima beasiswa Van Lith dengan ketulusan hati membagikan tulisan-tulisan pengalaman hidupnya, dan cerita-cerita perkembangan kepribadian semasa bersekolah dan mendapatkan pelajaran hidup di Sekolah maupun Asrama PL Van Lith.
Ada rasa haru yang timbul ketika membaca tulisan dari orang tua penerima beasiswa yang sangat bersyukur atas bantuan beasiswa Van Lith pada akhirnya sang putri terkasih dapat merasakan dan menjalani pendidikan di SMA PL Van Lith.
⸻
Sebuah Ajakan dari Hati
Tanpa menafikkan gerakan / pilihan aksi nyata lain dan bentuk kontribusi selain melalui Beasiswa Van Lith ini, dengan kerendahan hati, aku ingin mengajak rekan-rekan Alumni Van Lith yang mungkin masih bimbang untuk menentukan panggilannya untuk turut berpartisipasi.
Melalui tulisan ini, aku ingin mengajak siapa pun dari keluarga besar Van Lith untuk ikut menyalakan lilin kecil ini.
Karena cahaya yang kita nyalakan bersama, sekecil apa pun, akan menjadi terang bagi adik-adik kita yang sedang berjuang.
Mungkin kita tidak bisa membantu semua orang. Tapi kita bisa menjadi seseorang bagi satu orang yang benar-benar membutuhkan.
Dan di sanalah letak makna sesungguhnya dari semboyan yang selalu tertanam di hati setiap anak Van Lith — Putra dan Putrimu, setia berjuang, Apimu Menyala Terang!
Teruntuk almarhum Mas Larry yang sudah berbahagia bersama Bapa di Surga, terima kasih telah meninggalkan legacy berupa gerakan Beasiswa Van Lith ini.
Doakan kami semua adik-adikmu yang masih berjuang di Dunia ini agar dapat meneruskan gerakan yang sudah engkau mulai ini.
Salam
Alpha – Van Lith LimaBelas